Matabanten.com | Internasional -Perang Hamas-Israel memasuki pekan ketiga. Sudah ribuan orang jadi korban jiwa: sedikitnya 4.600 warga Palestina dan lebih dari 1.400 orang di Israel. Selain mereka, sedikitnya 200 orang berada dalam sandera kelompok Hamas. Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebutkan, sekitar 1,4 juta dari 2,3 juta populasi di Gaza menjadi pengungsi lokal.

Kabar gembira datang di akhir pekan. Sabtu (21/10/2023), konvoi bantuan kemanusiaan, meskipun dalam jumlah sangat terbatas, mulai masuk Gaza. Hamas, dalam kesepakatan yang dimediasi Qatar dan difasilitasi Komite Internasional Palang Merah (ICRC), juga membebaskan dua sandera. Hal ini, kata Mirjana Spoljaric, Presiden ICRC, ”sekeping harapan”.

Namun, di sisi lain, muncul kabar mencemaskan. Tak hanya pertempuran tak kunjung mereda. Israel juga terus membombardir Gaza, tak hanya di wilayah utara, tetapi juga di wilayah selatan, area yang—sesuai ultimatum Israel, pekan lalu—jadi tempat perlindungan warga Gaza. Akibatnya, menurut OCHA, ratusan hingga ribuan warga kembali lagi ke utara.

Di Gaza, wilayah utara atau selatan sama saja. Tiada sejengkal tanah pun yang aman bagi warga. Dari wilayah itu pula, Hamas terus menembakkan roketnya ke Israel.

Kekhawatiran lain adalah eskalasi konflik di kawasan. Tepi Barat, wilayah pendudukan yang terpisah dari Gaza, Lebanon selatan, dan Suriah tak luput dari gempuran Israel. Sejak 7 Oktober lalu, saat Hamas menyerang Israel, yang lalu membalas dengan serangan udara ke Gaza, Israel dan kelompok Hezbollah di Lebanon selatan saling menggempur.

Hezbollah adalah salah satu proksi Iran di kawasan. Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian telah memperingatkan Israel agar tak melancarkan serangan darat ke Gaza. Jika Israel jalan terus dengan rencana serangan daratnya, Iran lewat proksi-proksinya tak akan tinggal diam.

Inilah yang dikhawatirkan banyak kalangan: perang Hamas-Israel bereskalasi, menyeret lebih banyak aktor di kawasan. Seperti di Gaza, korban di wilayah lain terus bertambah. Hingga Minggu (22/10/2023), di Lebanon selatan sedikitnya 29 orang tewas, termasuk wartawan Reuters dan tiga warga sipil lain. Di Tepi Barat, 90 warga Palestina tewas akibat serangan militer Israel atau bentrokan dengan warga Israel bersenjata.

Tak ada jalan lain, untuk mengerem agar perang tak meluas, harus ada upaya deeskalasi. Pekan lalu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Gutteres dua kali melontarkan harus ada ”gencatan senjata untuk kemanusiaan” agar bantuan kemanusiaan bisa mengalir ke Gaza sekaligus memberi jalan perundingan untuk pembebasan semua sandera di tangan Hamas.

Harus diakui, hingga kini seruan itu masih sayup-sayup, terlindas oleh nafsu sejumlah pihak yang ingin menyelesaikan konflik dengan senjata dan militer. Kamis (26/10/2023), para pemimpin Eropa dijadwalkan membahas seruan Gutteres. Harapan kita semua, semoga ada pikiran rasional di Brussels, lalu bisa menyebar ke Gaza dan Israel serta pendukungnya.